Bridal Bath Prohibition as a Local Wisdom Among Lampung Communities on Islamic Law Perspective

Dinda Bestari, Eka Kurnia Sari

Abstract


ABSTRACT

Marriage is a contract that leads to the ability to get along between a man and a woman, to help each other, and to determine the boundaries of rights and obligations between them. The purpose of this study was to explore how the process of implementing the tradition of bridal bath prohibition in the Lampung tribe and how the validity of the tradition according to Islamic law. This research is empirical legal research, using primary data through the process of interviews, observation, and documentation. The results of this study show that, firstly, the implementation of the bridal bath prohibition is local wisdom of the Lampung tribe, especially in the village of Karta Raharja, Tulang Bawang Barat Regency, carried out three days before the wedding reception. Parties who are prohibited from bathing are usually the prospective bride. Second, the tradition of bridal bath prohibition according to the perspective of Islamic law, through the theory of 'urf is allowed. This is for several reasons, firstly there is no reduction in the terms and pillars of marriage, so it does not affect the validity of the marriage. Second, there is no element of shirk, because the majority of people believe that things that happen after the implementation of the tradition, such as the absence of rain at the reception and the smooth running of the wedding reception, are purely the will of Allah SWT as an almighty substance.

Keywords: Local Wisdom; Bridal Bath Prohibition; and Lampung Tribal;

ABSTRAK

Perkawinan merupakan akad yang mengarah pada kemampuan untuk bergaul antara seorang pria dan seorang wanita, untuk saling membantu, dan untuk menentukan batas-batas hak dan kewajiban di antara mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelusuri bagaimana proses pelaksanaan tradisi larangan mandi penganten pada suku Lampung dan bagaimana keabsahan tradisi tersebut menurut hukum Islam. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris, dengan menggunakan data primer melulaui proses wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa, pertama pelaksanaan larangan mandi penganten merupakan sebuah kearifan lokal pada suku Lampung khususnya di desa  desa Karta Raharja Kabupaten Tulang Bawang Barat, dilaksanakan tiga hari sebelum acara resepsi pernikahan. Pihak yang dilarang mandi biasanya bagi calon mempelai wanita. Kedua, Tradisi larangan mandi penganten menurut perspektif hukum Islam, melalui teori ‘urf  diperbolehkan. Hal ini karena beberapa alasan, pertama tidak terdapat pengurangan syarat dan rukun nikah, sehingga tidak berpengaruh pada keabsahan pernikahan. Kedua, tidak terdapat unsur syirik, karena mayoritas masyarakat mempercayai bahwasanya hal yang terjadi setelah pelaksanaan tradisi tersebut seperti tidak turunya hujan pada saat resepsi dan lancarnya acara resepsi pernikahan adalah murni kehendak Allah SWT sebagai zat yang maha kuasa.

Kata Kunci: Kearifan Lokal; Larangan Mandi Pengantin; dan Suku Lampung;


Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract view : 73 times | PDF view : 34 times

DOI: https://doi.org/10.23971/elma.v12i1.3826

Article Metrics

Abstract view : 73 times
PDF - 34 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2022 Dinda Bestari, Eka Kurnia Sari

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

El-Mashlahah is published by Fakultas Syariah IAIN Palangka Raya in collaboration with the Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam (ADHKIIndonesia  [MoU manuscript].

Editor and Administration Address:

Building A, Fakultas Syariah IAIN Palangka Raya, Jl. G. Obos, Islamic Centre, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Indonesia, Postal Code 73112

email: maslahah@iain-palangkaraya.ac.id

This work is licensed under a  Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License